Monolog Hati yang Berkelana


Subuh yang dihias bunyian unggas membelai hatiku yang kesepian. Sendiri dalam jiwa biar ditemai 12 lagi teman posko yang ceria dan mesra, sering berjaya mencuit hatiku. Keletah setiap satu dari mereka membuktikan ragam manusia memang menjadi perencah dunia bagai rempah ratusan yang memeriahkan rasa, dan bagai bunga pelbagai warna yang mengindah panorama. Tapi siapkah aku mencicip rempah yang pedas? Atau memetik bunga berduri?

Inilah hakikat insani.

Hadirnya aku di desa ini adalah melangkah ke kota baru. Tetapnya aku di sini adalah cabaran penuh berliku. Rupanya menetap itu lebih susah dari terus berubah. Kerana insan di sekitarku berbeza, andai aku tak teguh, aku akan hanyut bersamanya. Kota ini ibarat sarang labah-labah, andai aku baik dengan tuannya, mudahlah aku berkelana. Hubungan yang rapuh bisa mengorbankan diri sendiri. Persoalannya, kuatkah aku mengharung badai hati sekencang angin di pinggiran bendang? Badai sering mendorongku ke kebun lalai dan alpa yang nantinya memerangkapku di jerat cinta.

Berbaur dengan teman bukan muhrim cukup menguji.

Tujuh minggu tinggal serumah, tegakah imanku?

Auratmu yang cuma membenarkan wajah dan pergelangan tangan diperlihatkan, mampukah dipelihara?

Ikhtilat dan pergaulan makin biasa menjelang seminggu bersama, relakah meroboh segala tembok maluku?

Sabar! Di sinilah perisai jiwaku teruji, dengan segala kepayahan dan keganjilan yang belum pernah kulalui, tahankah amarahku?

 Zahirnya KKN cuma sekadar berprogram dan beraktiviti si desa-desa, tapi batinku yang teruji. Payahnya menjaga hati dan iman, apalagi kepunyaan teman-temanku…Wahai diri, janganlah berfikir amanahku cuma hatiku, tapi hati-hati yang kekeosongan di poskoku harus juga aku kenal pasti. Bagai perut yang kosong tak diisi makanan, pasti bakal pedih. Mata kail yang sering dilempar ke dalam parit pasti mengait sampah.

Akulah doktornya. Aku harus menjadi doktor jasmani dan rohani. Mengambil berat pada yang kurang gizi dan yang kurang mengaji. Memberi nasihat kepada pasien berlebihan berat badan dan pasien berlebihan hiburan. Memberi ubat kepada yang sakit kaki dan yang sakit hati. Tapi jelas, tak mudah menjadi doktor ini. Perlu peringatan dan pegangan, itulah Al-Quran dan As-Sunnah. Juga teman yang sering mengingatkan, yang menarikku saat ku hanyut, yang memapahku saat ku lelah.

Wahai diri, usahamu tak bererti bila ia bukan dari hati dan hasilnya tak dihargai bila usahamu bagai menyepak pasir di jalanan….

(Monolog ini ditulis sewaktu berperang dengan godaan nafsu dan kelelahan iman, semoga dapat menjadi peringatan buat yang bakal berkelana di kemudian hari…)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s