Warkah Buat Adik-adikku


 

Wajah-wajah itu berkerut dan penuh keraguan.

 

Mata yang cekung, pipi yang basah dengan air mata dan tubuh yang kurus lemah melayukan hatiku. Kenapa kalian begitu sedih dan takut sekali?

Itulah yang biasanya aku lihat tatkala memeriksa anak-anak kecil yang kurang bernasib baik berbanding yang seumur mereka. Mereka kesakitan. Mereka lemah. Mereka tak bebas. Mereka kelelahan.

 

Dan di setiap saat kami yang berseragam putih mengerumuni mereka. Waktu tidur, waktu bangun, waktu makan, seragam putih ini menyentuh dan ‘menyakiti’ mereka. Adegan traumatik bermula sejak menjejak punggung ke kasur bangsal. Tubuh dipegang, ditekan, dicubit, diketuk, kemudian ditambah dengan sakit dan gerun melihat jarum suntik yang rakus mengambil darah mereka, menusuk hujung jari mereka yang mulus, menembus subkutan mereka dan tetap di situ selama berhari-hari malahan berminggu. Tangan mereka yang mungil diplaster seperti mumia dan difiksasi dengan sebatang papan yang aneh sekali. Orang dewasa sendiri tak tahan diperlakukan sebegitu, apatah lagi mereka yang masih tak mengerti?

 

 

Maafkan kami adik-adikku yang comel. Maafkan kami kerana mengganggu tidurmu. Sedayanya kakak mengangkat tanganmu perlahan-lahan, menghitung nadimu selembut mungkin, menghitung nafasmu sefokus mungkin, memeriksa tekanan darahmu dengan tepat sekilat waktu. Kami tak berniat dan berusaha untuk tidak membuat kalian bersedih dan tidak selesa. Kami mahukan yang terbaik buat kalian. Datangnya kami menjenguk di hujung katil di setiap jam adalah untuk memeriksa keadaan kalian, supaya kalian cepat sembuh, supaya kalian tak lagi menangis, dan membuat ibu bapa kalian menangis di kemudian hari.

 

Kuatlah melawan penyakitmu! Minum susu banyak-banyak, rajin-rajin makan, jangan mengelak minum ubat, dan bermainlah bila kau bisa.

 

Semangatlah! Teruskanlah hidup! Berjuanglah demi Tuhan yang telah menciptakanmu, berkembanglah demi orang tua yang telah melahirkanmu, dan senyumlah demi kami, kalau kalian sudi. Cukuplah itu sebagai penebus keringat kami.

 

Cepatlah sembuh adik-adikku!

 

*kasur = katil

*bangsal = wad

*subkutan = lapisan bawah kulit

*fiksasi = dibiarkan tetap di satu tempat atau posisi

3 thoughts on “Warkah Buat Adik-adikku

  1. Yes…it’s painful…especially when you’re not only there to watch, but…you’re one of the pain-inflicters! We all are (or going to be). So, to save our hearts from breaking, keep it sealed tight before we do anything to them, and open it back at home. But be careful, because those who don’t do it right will risk becoming ‘machinist’ doctors (who forgot to open their hearts back)…na’uzubillah>_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s