Isabella – Bab 1 (Taman yang Diberkati)


Taman ini seperti kembaran Taman Ede. Taman terindah di Spanyol. Udaranya selalu semerbak wangi. Tak heran kalau kupu-kupu dan burung madu enggan meninggalkan taman ini.

Petang telah meremang. Matahari telah siap ke peraduan. Burung-burung sudah bergegas ingin segera pulang ke sarang. Lanskap senja di taman itu begitu memesona bagi orang-orang yang melintasinya. Rasanya mata enggan meninggalkan keindahan kekuasaan Sang Kuasa.

Di sudut taman, ada seorang gadis yang matanya tampak bersinar. Namanya Isabella. Ia duduk bersama beberapa temannya, menikmati kubah langit yang tersepuh lembayung senja. Isabella anak seorang rahib Kristen. Umurnya antara 16 atau 17 tahun. Dengan keanggunan dan kecantikannya, Isabella seumpama bidadari dari syurga, membuat mata lelaki terpesona. Sudah banyak terdengar dari kabar di Spanyol kalau para bangsawan dan rahib berharap dapat menyuntingnya, tapi sang ayah menginginkan Isabella sebagai perempuan teladan serupa Bunda Maria. Sang Ayah tidak menghendaki Isabella menikah. Oleh kerananya,  Isabella sekolah di sekolah agama. Kerana mendapat pendidikan ilmu agama yang baik, Isabella sangat akrab dengan beragam pernak-pernik keagamaan, dan ia pun terlibat aktif serta bersemangat dalam setiap perbincangan membahaskan soal-soal itu.

Di dekat rerimbun mawar di sudut taman, duduk beberapa orang Islam, mereka tampak begitu terpelajar, dan sedang terlibat suatu perbincangan yang menarik.

“Saint Paul dalam salah satu suratnya mengatakan bahawa hukum agama adalah kutukan dan Jesus Kristus diturunkan ke dunia untuk membebaskan kutukan itu. Apa sejatinya makna surat tersebut?1” Umar Lahmi berkata.

“Hahaha. Engkau ingin tahu ertinya dariku, yang bahkan para rahib Kristen pun ….,” seloroh Muaz.

Sementara itu, Isabella yang sedang menajamkan pendengarannya ketika mendengar kata, “Bahkan rahib Kristen pun,” berbisik kepada temannya, “Orang-orang Islam itu tengah membicarakan agama kita. Ayuh, kita dengarkan diam-diam,”

“Sejak kaum Muslimin datang ke sini, agama kita dalam bahaya,” jawab  teman Isabella tak kalah lirihnya.

“Diamlah!” Isabella mengingatkan dengan meletakkan telunjuk tangan di bibir. “Ayuh, kita dengarkan percakapan mereka.”

Keduanya terdiam.

Tak menyedari kalau pembicaraan mereka didengarkan oleh orang lain, Umar Lahmi dan Muaz terus berdebat. Dengan suara agak keras Umar Lahmi membantah, “Engkau mengatakan bahkan rahib Kristen pun tak paham makna kata tersebut?” Apakah engkau ingin mengatakan bahwa mereka memeluk agama Kristian tanpa pengetahuan?”

“Tanyakan soal tersebut pada beberapa rahib dan lihat apa jawapan mereka. Tapi pertama-tama katakana padaku apa keberatanmu mengenai perkataan Saint Paul tersebut?” tanya Muaz.

“Sebenarnya aku tidak punya keberatan apa pun. Aku  hanya ingin mengetahuinya dan kerana engkau sering bicara dengan orang-orang Kristen dan juga membaca buku-buku agama mereka, maka aku menanyakannya padamu. Inti pemasalahannya ialah ketika hukum agama dianggap sebagai kutukan, dan Jesus Kristus diturunkan ke bumi untuk membebaskan kutukan itu, maka pencuri, penzina, orang-orang yang durhaka terhadap orang tuanya akan diperbolehkan dalam agama Kristian, meskipun tak seorang Kristen pun percaya bahwa orang-orang tersebut diperbolehkan dalam agama Kristian.”

“Bagaimana para pencuri, penzina, dan seterusnya dapat dihubungkan dengan hukum agama? Aku tak paham,”kata Muaz.

“Apa yang aku tahu ialah bahwa dalam Perjanjian Lama, yang merupakan hukum agama, melarang orang untuk mencuri, berzina, menyusahkan tetangga, membangkang pada orang tua dan seterusnya. Tapi jika seluruh hukum agama merupakan kutukan, akan merupakan kutukan juga mematuhi perintah agama kerana semua perintah agama juga merupakan hukum agama. Jika apa yang dikatakan Saint Paul benar maka orang Kristen juga boleh mencuri, berzina, dan boleh melakukan perbuatan dosa lainnya. Tapi seperti kita, ketika mereka mematuhi hukum agama kemudian mereka dikutuk dan kaum Kristian yang yang keberatan terhadap perbuatan dosa tersebut juga dikutuk kerana mereka keberatan mematuhi hukum agama.”

“Lucu, engkau ingin aku menjelaskan persoalan yang sering aku tanyakan pada orang-orang Kristen,” jawab Muaz seraya tertawa geli.

“Apakah engkau pernah menanyakan persoalan tersebut pada orang-orang Kristen? Apa jawapan mereka?”

“Mereka cuba menjelaskan tapi penjelasan mereka membingungkan.”

Terdengar suara azan membelah malam yang segera menjelang. Kedua pemuda Islam itu bergegas meninggalkan taman. Mereka berjalan menuju masjid yang tak jauh dari taman.

Isabella diam-diam mendengarkan pembicaraan kedua pemuda itu dengan penuh perhatian. Ia memahami kebingungan mereka. Isabella sendiri mencuba mencari jawap, tak jua beroleh jawapan. Maka ia berniat menanyakan persoalan tersebut pada ayahnya.

Isabella dan temannya bangkit dan bergegas ke luar dari taman. Di persimpangan jalan, keduanya berpisah. Isabella menembus dinginnya udara senja yang akan segera digantikan malam, berjalan  terus ke timur, kea rah gerbang Cordova.

(Bersambung di Bab 2 (Persoalan Pelik) )


1Surat Saint Paul merupakan bahagian dari Kitab Perjanjian Baru. Perdebatan Umar Lahmi dan Muaz merupakan bahagian dari surat Saint Paul pada jemaah di Rome.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s