Isabella – Bab 2 (Persoalan Pelik)


Di pintu gerbang Cordova bahagian timur terdapat jalan yang menghubungkan dengan Qasruss Shuhada[1]. Jalan inilah yang dilalui si jelita Isabella. Sejak kekhalifahan Islam berkuasa di Spanyol, kota ini banyak dipoles agar semakin cantik dan memesona. Di Cordova, jalan-jalan diperlebar. Kiri-kanan dipasang lampu-lampu pengganti matahari di malam hari. Ketika malam pun, siapa saja bisa berjalan sejauh dua puluh mil tanpa harus terhantuk batu.

Isabella berjalan anggun menyusuri jalanan yang luas bermandikan cahaya, yang menghubungkan dengan Istana Para Syuhada. Kepalanya digelayuti seribu tanya. Namun ayunan langkahnya tetap teratur sebagai gadis terhormat. Biasanya, setelah menapakkan kakinya di senja hari, dalam perjalanan pulang, Isabella akan singgah di rumah temannya. Tapi hari ini ia langsung berjalan pulang dan tampak asyik dengan pikirannya sendiri.

Salam setengah jam, ia telah tiba di rumahnya yang serupa istana, semetara pembantunya telah menunggunya di pintu gerbang dan menyambutnya dengan ucapan salam. Setelah menjawab secara singkat kenapa ia terlambat, Isabella langsung menuju biliknya. Sesampai di bilik, ia melemparkan tubuhnya di kerusi malas dan mulai membaca injil. Pada saat yang sama, si pelayan menyediakan makanan dan memanggilnya untuk makan malam. Tapi Isabella begitu asyik dengan bacaannya hingga ia tak menjawab dan terus belajar. Ia tengah membaca kitab Injil dan secara teliti. Ia membaca surat tersebut berulang kali tapi tak dapat menemukan jawapan atas keraguaannya yang makin lama makin besar. Ketika merasa lelah dan penat, ia singkirkan Injil tersebut dan memutuskan akan menanyakan persoalan tersebut pada ayahnya, esok hari.

Isbella tak pernah menyangka kalau persoalan tersebut begitu pelik hingga ia boleh memecahkannya. Tapi kalau ia tidak mampu menjawab, pasti ayahnya akan dengan mudah memberikan jawapan, kerana di Spanyol, tak ada seorang pun yang lebih terpelajar melainkan ayahnya. Begitu tenteram hatinya mengingat hal itu, kemudian ia makan malam dengan ditunggui oleh pembantunya. Selepas makan ia kembali membaca Injil sampai tertidur di ranjangnya.

Paginya, kerana hari Ahad, Isabella bangun pagi-pagi benar dan berangkat ke gereja. Sepulang dari gereja, sang ayah telah menyambutnya. Sang ayah bertanya Injil bab berapa yang dibacanya semalam, kalau ada kesulitan Isabella boleh bertanya padanya.

Sebelum berkata Isabella mencium tangan ayahnya, kemudian kata-katanya mengalir lembut, “Ayah aku membaca Surat Yunus pasal 3[2], dan jika ayah berkenan aku ingin bertanya kerana ada hal yang tidak aku pahami.”

“Tentu saja, Anakku. Jangan malu-malu, tanyakan akan segera hilang kesulitanmu.”

“Dua Belas Perintah Tuhan yang Tuhan berikan kepada kita dalam Perjanjian Lama melalui Nabi Musa, apakah itu bukan hukum agama?”

“Ya, itu semua hukum agama,” jawab ayah Isabella mantap.

Setelah mendapatkan jawapan, Isabella mengajukan masalah lain, pokok persoalan yang sejak semalam ingin ditanyakan. “Persoalan lain, Ayah, dalam salah satu suratnya, Saint Pauls mengatakan bahawa hukum agama adalah kutukan.”

“Ya, hukum agama adalah kutukan. Dan Jesus Kristus diturunkan ke dunia untuk membebaskan kutukan itu, kerana itu Jesus mati di kayu salib.”

“Sekarang jelas bahawa hukum agama adalah kutukan,” Isabella mengambil jeda sesaat, “dan Jesus Kristus diturunkan ke dunia untuk membebaskan kutukan itu dan Jesus disalib kerananya.”

“Tentu saja hukum agama adalah kutukan dan sekarang kaun Kristen punya keimanan terhadap Jesus Kristus, kerana hukum agama telah berlaku sebelum Tuhan kita disalib.”

“Sekarang, mencuri juga diperbolehkan bagi kita?”

“Apa hubungannya dengan hukum agama?” tanya ayah Isabella hairan. “Anakku, engkau harus berpikir masak-masak sebelum bertanya. Kerana jika ada orang yang mendengar pertanyaanmy ini akan mengira kau seorang yang bodoh.”

“Maafkan aku, Ayah, mungkin pertanyaanku kurang jelas. Aku masih belum paham maksud isi Injil yang Ayah sampaikan tadi. Sepengetahuanku, kita umat Kristien tidak boleh mencuri, tidak boleh menindas jiran tetangga, tidak boleh membangkang terhadap orang tua. Sekarang perintah ini masih merupakan bahagian dari hukum agama, yang menurut Saint Pauls merupakan kutukan. Maka, mematuhi Kitab Perjanjian Lama, yakni tidak mencuri , tidak berzina, tidak durhaka terhadap orang tua, beerti kita menjalankan kutukan.”

“Anakku, engkau belum memahami kedudukan hukum agama. Tapi sebelumnya katakana siapa yang meletakkan pertanyaan bodoh ini dalam pikiranmu dan syaitan apa yang menaruh keraguan dalam hatimu?”

Sebagai gadis yang jujur, Isabella tidak mahu berdusta pada ayahnya. Maka ia menceritakan percakapan antara Umar Lahmi dan Muaz yang ia dengar di taman petang kelmarin.

Ayah Isabella mendesah. “Anakku, engkau sudah tahu kaum Muslimin terkutuk itu orang-orang kafir dan selalu bermusuhan dengan agama suci kita. Kritikan terhadap Kitab Suci merupakan buah dari pikiran syaitan. Anakku, engkau harus segera bertobat dan untuk selanjutnya jangan pernah mendengar percakapan kaum Muslimin. Mereka adalah kafir dan mengutuk agama sejati golongan lain. Engkau tahu, Anakku, agama mereka? Pertumpahan darah adalah tindakan terpuji dalam ajaran mereka. Lihatlah , mereka menjajah Spanyol, negeri kita, dan membunuh ratusan orang tak berdosa serta memaksa orang untuk memeluk agama mereka. Kini kau tahu, kebenaran itu berasal  dari kaum Muslimin. Jika keberatan itu berasal dari dirimu, aku boleh mengatasinya, tapi jawapan apa yang boleh kita sampaikan pada kaum Muslimin?”

Isabella menyesal telah mengatakan persoalan itu berasal dari kaum Muslimin, jika tidak persoalan itu pasti telah selesai. Tapi sebuah gagasan tiba-tiba melintas di kepalanya. Ia akan mencari jawapan pertanyaan itu pada guru agamanya.

Hari berikutnya, Isabella menanyakan persoalan yang sama pada gurunya, Michael. Ia yakin sang guru akan mampu menjelaskan persoalan tersebut dan membersihkan keraguan di hatinya. Ketika Michael juga tidak dapat memuaskan keingintahuannya, barulah Isabella menyedari bahawa pokok persoalan tersebut memang begitu sulit bahkan bagi orang Kristien yang terpelajar sekalipun. Maka mulai terpecik kecurigaan Isabella terhadap agamanya. Kristien.

(bersambung di Bab 3 (Surat Menyurat) )


[1] Istana Para Syuhada

[2] Surat Yunus merupakan bahagian dari Kitab Perjanjian Lama

One thought on “Isabella – Bab 2 (Persoalan Pelik)

  1. Pingback: Isabella – Bab 1 (Taman yang Diberkati) « IPEM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s