Isabella – Bab 3 (Surat Menyurat) [Part 1]


Masih petang seperti kelmarin. Isabella kembali datang ke taman. Tujuannya hanya satu, mendengarkan percakapan Umar Lahmi dan Muaz. Tapi ketika Isabella datang, keduanya belum tampak. Sambil menunggu kedatangan mereka, Isabella asyik memandang langit yang merona jingga.

Ternyata tak membutuhkan waktu yang lama bagi Isabella, Umar Lahmi dan Muaz segera tampak. Keduanya terlihat berjalan ke arah taman dan duduk di tempat seperti kelmarin.

“Keberatanmu terhadap surat Saint Paul yang engkau kemukakan kelmarin sampai pada telinga Kepala Rahib. Mereka pun gempar. Konon beberapa orang yang bijak pun jadi meragu,” tutur Umar Lahmi memulai pembicaraan.

“Mungkin itu hanya gossip semata. Siapa yang telah mendengar percakapan kita?”

“Siapa yang telah mendengar percakapan kita? Adakah para rahib tersebut begitu gusar tanpa sebab?”

“Apa sumber kegemparan tersebut? Apakah para rahib itu mendengar persoalan tersebut pertama kalinya?”

Umar Lahmi tampak bingung. “Alasan yang tak dapat ku jawab, tapi dari apa yang telah ku dengar dan mengapa para rahib demikian resah memang dari pokok persoalan yang kita diskusikan kelmarin. Aku mendapatkan informasi ini dari orang Kristien sendiri.”

“Hanya satu keberatan telah membuat gempar para rahib,” kata Muaz enteng. “padahal semua doktrin Kristien mengelikan. Bagaimana menjelaskan doktrin dosa asal, dosa yang hanya dibuat Nabi Adam. Kerana kemurkaan nabi pertama itu semua umat manusia menjadi berdosa dan harus menanggung akibatnya. Dan apakah keyakinan ini boleh dibenarkan, bahawa untuk membalas dosa para pendosa, seorang yang tidak bersalah dihukum dan harus menanggung beban semua dosa umat manusia. Putera Allah turun ke bumi dan disalibkan. Apakah tidak melebihi batas menuhankan seseorang yang begitu lemah dan tanpa daya? Jika orang Kristien punya jawapan bagi semua pertanyaan ini, silakan dikemukakan.”

“Ha-ha-ha. Jika bukan orang Kristien, siapa lagi yang mempunyai keyakinan yang mengelikan itu? Semua orang sudah berbicara tentang hal yang masuk akal, tentu harus ada juga yang berbicara tentang hal yang tak masuk akal”

“Aku kira kini saatnya kita memanfaatkan kegemparan ini.”

“Cadangan yang bagus. Kita akan membuat para rahib berbicara tentang doktrin Kristien.”

“Idea yang bagus, dan akan menggemparkan seluruh umat Kristien di Spanyol.”

Sementara itu, Isabella dan kedua teman sekelasnya duduk tak jauh dari Muaz dan Umar Lahmi. Mereka mendengarkan percakapan keduanya dengan penuh perhatian. Isabella menjentikkan jari tanda marah. Akhirnya, Isabella hilang kesabarannya dan berkata pada kedua temannya, “Kita harus menyangkal keraguan mereka dan berusaha keras meyakinkan mereka. Semoga Jesus Kristus menarik mereka ke sisi-Nya. Jika orang Islam itu dapat masuk Kristien, akan menjadi kemenangan besar bagi agama Kristien dan untuk selanjutnya umat Islam tak akan berani menegakkan kepalanya di negeri ini.”

Selesai berucap Isabella menengadahkan wajahnya, berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan agar kedua orang kafir dan juga musuh agama Kristen masuk dalam agama Kristen.

“Isabella, orang-orang kafir itu begitu keras kepala,” kata sahabat Isabella gusar. “Bagaimana mungkin mereka meninggalkan setan dan menyambut uluran tangan Tuhan Jesus. Persoalannya kemudian ialah rahib-rahib kita juga takut pada kaum Muslimin. Kelmarin ketika para rahib melihat kekhawatiranmu tentang keberatan kaum Muslimin tentang hukum agama dan kutukan, aku tanyakan hal yang sama pada rahib di wilayahku, tapi beliau mengelak dan berkata kita tak semestinya memperhatikan apa yang dikatakan kaum Muslimin. Sebab jawapan mereka bukanlah perbincangan tapi pedang terhunus. Jika demikian halnya sikap para rahib bagaimana kaum Muslimin tidak menjadi sombong?”

“Masalahnya ialah rahib kita tak suka bicara dengan kaum kafir dan lebih suka diam,” jawab Isabella. “Tapi mereka diam bukan beerti mereka tak mampu memecahkan persoalan mereka sendiri. Namun, jika para rahib percaya bahawa setelah kaum Muslimin dapat diyakinkan, mereka akan memeluk agama Kristen, aku kira para rahib akan mahu berbicara dengan kaum Muslimin.”

“Kedua orang itu harus membuat janji tertulis dan mereka harus bicara berhadapan dengan rahib kita, dengan demikian di satu sisi para rahib terpaksa bicara dengan mereka dan kedua Muslimin terpaksa memeluk keyakinan kita.”

“Idea yang bagus. Tapi apakah kedua pemuda Islam itu siap?” tanya Isabella ragu.

“Kenapa tidak, apa yang telah kau dengar dari bibir mereka?”

“Lalu, menunggu apa lagi? Beritahu mereka bahawa mereka harus siap berdialog dengan rahib kita. Aku akan memberimu surat pendek dan berikan pada mereka dan tunggu apa jawapan mereka.”

“Tapi pertama-tama harus dipastikan kesediaan rahib kita.  Mungkin saja kedua kafir itu setuju sementara rahib kita tidak setuju,” kata teman Isabella mulai tak percaya diri.

“Jika kedua Muslim itu membuat janji tertulis bahawa jika mereka berhasil diyakinkan akan masuk Kristien, maka rahib kita pasti sanggup berdialog dengan mereka.”

Isabella menyobek secarik kertas dari buku hariannya. Ia kemudian menulis surat.

(bersambung Bab 3 -Surat Menyurat [Part 2] )

One thought on “Isabella – Bab 3 (Surat Menyurat) [Part 1]

  1. Pingback: Isabella – Bab 2 (Persoalan Pelik) « IPEM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s