Isabella – Bab 3 (Surat Menyurat) [Part 2]


Isabella menyobek secarik kertas dari buku hariannya. Ia kemudian menulis surat:

Wahai Saudaraku,

Sebelumnya maafkanlah aku kerana mendengar pembicaraan Saudara berdua dengan penuh perhatian. Terus terang aku juga tertarik pokok pembicaraan kalian, aku harap Saudara tidak keberatan jika aku ikut campur.

Tadi baru saja Saudara katakan pada teman Saudara jika ada orang Kristen yang mampu menjelaskan dengan memuaskan, hubungan hukum agama dan kutukan, maka Saudara akan rela memeluk agama Kristen. Selain itu Saudara juga menentang doktrin tentang hukum agama dan kutukan, maka sebagai hamba Tuhan Jesus Kristus, kami dengan senang hati menerima tentangan Saudara, asalkan Saudara membuat janji tertulis.

Salom,

Hamba iman Kristen.


Setelah surat selesai ditulis, teman Isabella, tanpa membuang waktu, segera menyerahkan surat pendek tersebut pada Umar Lahmi. Umar Lahmi segera menunjukkan surat tersebut pada Muaz dan segera menulis jawapan.

Jawapan itu berbunyi:

Kami berterima kasih telah menyusahkanmu dan kami setuju jika rahib kalian dapat menjelaskan persoalan tentang hukum agama dan kutukan. Maka dengan ini kami berjanji, aku dan temanku akan masuk agama Islam kalau kalian dapat memberikan penjelasan yang memuaskan. Sekarang katakana di mana dan bila kita mesti bertemu untuk berdiskusi.

Hamba Islam,

Umar Lahmi


Setelah keluar dari taman Cordova, pikiran Isabella mencari cara untuk menemukan cendekiawan Kristen yang tepat untuk berdialog dengan kaum Muslimim, kerana itu sebelum pulang ia singgah ke rumah gurunya dan menceritakan apa yang terjadi. Sang guru, yang juga seorang rahib, sangat menguasai ilmu agama. Sang guru, ketika melihat Isabella tampak khuwatir bertanya pada Isabella apa yang membuatnya begitu khuwatir.

Isabella menunjukkan surat Umar Lahmi yang isinya sebuah janji bahawa jika persoalan hukum agama dan kutukan dapat dijelaskan dengan memuaskan, Umar Lahmi dan Muaz akan masuk Kristen. Sang guru setuju untuk berdialog dan ia merasa perlu bantuan beberapa sarjana Kristen yang terkenal. Persetujuan sang guru meredakan kecemasan Isabella, kemudian ia pulang dengan lega, dan berkata bahawa ia akan menentukan waktu dialog besok tengah hari.

Malam harinya Isabella tidur dengan gelisah. Sebuah pertanyaan terus menghantuinya. Ia berpikir apa yang akan terjadi jika para cendekiawan Kristen tidak mampu memuaskan pertanyaan kaum Muslimin, maka kaum Kristiani akan merasa ketakutan selamanya.

Akhirnya pagi pun tiba, setelah selesai berdandan, Isabella mulai memelajari Injil. Tepat tengah hari, ia dan kedua temannya pergi ke rumah sang rahib. Setiba di rumah sang rahib, ia melihat banyak rahib sedang berkumpul dan tampak sedang menunggu beberapa rahib lagi. Ketika guru Isabella muncul, ia segera duduk. Setelah melakukan pujian terhadap Jesus Kristus, sang guru menjelaskan maksud diadakannya pertemuan tersebut. Pertemuan ini bertujuan untuk mempersiapkan diri berdialog dengan dua orang Muslim.

Seorang rahib berkata, “Kami hairan persoalan serius apa yang membuatkan kami diminta untuk berkumpul, dan ketika tiba di sini baru kami tahu rupanya hanya persoalan remeh. Panggil kedua orang Islam itu sekarang juga, salah satu di antara kami pasti dapat menyakinkan mereka.”

“Benar, pokok persoalannya tidaklah terlalu serius kerana kami sering mendiskusikannya dengan kaum Muslimin,” sahut rahib yang lain. “Tapi kerana berita telah merebak bahawa umat Kristen tak mampu menjelaskan keberatan tersebut, maka persoalan ini menjadi serius dan sekarang kita harus menentukan waktu untuk berdialog dengan mereka.”

“Besok hari Ahad saja, saat semua umat Kristen akan berkumpul di gereja. Semoga Tuhan Jesus membimbing kita,” usul seseorang.

“Saranan yang bagus,” ujur seorang rahib yang kelihatannya berpengalaman. Kemudian ia bicara dengan Isabella, “Ayahmu yang akan memimpin doa di gereja harus datang. Kita mungkin perlu bantuan beliau. Engkau akan menjadi moderator dalam dialog besok.”

Rahib lain, yang masih muda, menimpali, “Ayahmu pimpinan rahib di seluruh Spanyol, dan tak ada seorang  pun yang lebih pintar di bidang agama Kristen melainkan beliau. Maka kehadirannya sangat penting.”

“Tentu saja,” ujur Michael pula.

Sekarang, usulan telah disetujui dengan bulat, dan dialog diadakan pada hari Ahad. Atas permintaan Isabella, Michael juga menulis surat izin untuk memperbolehkan Umar Lahmi masuk ke gereja.

Matahari akan tenggelam satu setengah jam atau satu jam lagi. Isabella bersiap pergi ke taman ketika kedua temannya tiba. Mereka berjalan perlahan menuju teman Cordova. Setiba di taman, terlihat Umar Lahmi dan Muaz sudah duduk di sana. Tidak seperti hari biasanya, terlihat beberapa orang bersama mereka. Isabella menyerahkan surat Michael pada Muaz. Semua orang kemudian membaca surat tersebut.

Muaz bicara pada Isabella, “Kami sangat berterima kasih telah merepotkan Tuan. Dan, jika salah satu pihak mendapat petunjuk maka Tuanlah orang pertama yang pantas mendapat pujian.”

Umar Lahmi menjelaskan pada temannya, “Ia sarjana falsafat Kristen dan sangat paham ilmu teologi. Pujian yang paling berharga baginya ialah bagaimana ia begitu bersemangat mencoba membebaskan kita dari kekafiran.”

“Saya hanyalah hamba Kristus yang hina dan terima kasih sebelumnya Saudara semua sudi menerima undangan kami,” kata Isabella tersipu-sipu mendapatkan pujian dari Umar Lahmi.

“Lihat, bagaimana orang Kristen menyekutukan Tuhan dan menuhankan Kristus. Tentu mereka telah kehilangan akal sehat bagaimana seorang dapat hidup ….. ,” cerocos sahabat Umar Lahmi, emosional.

“Nanti dulu, Sahabatku! Engkau memulai membuat perdebatan,” potong Umar Lahmi. “Telah ditetapkan besok di gereja agung kita akan mengadakan dialog. Isabella tolong sampaikan pada para rahib bahawa kami akan tiba di gereja setelah makan pagi,”

Bersama temannya, Isabella segera meninggalkan taman. Ia sudah tidak sabar menunggu matahari esok pagi.

(bersambung Bab 4 (Pertemuan Pertama) )

2 thoughts on “Isabella – Bab 3 (Surat Menyurat) [Part 2]

  1. Pingback: Isabella – Bab 3 (Surat Menyurat) [Part 1] « IPEM

  2. Jiwa kosong, adakah cordova yg dmaksudkn dalam tempat ini adalah cordova jual buku kat makassar ni?? emmm….:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s