Satu malam yang dinanti.


Bumi berputar pada paksi,

Mentari menyusur dan bulan menunjuk diri,

Bintang dan bulan berlalu pergi,

Tanda hari berganti,

Bukti kuasa Ilahi.

 

Mentari menemani,

Tiada lagi hari-hari ghalib,

Walakin menjauhi fitrah,

Patuh taat padaNya,

Rutin tanpa beza.

 

Bulan dan bintang menghiasi langit,

Fardhu pasti sudah,

Sunat tidak alpa.

 

Dalam kesunyian malam,

Dengar cengkerik berlagu rentak,

Nyaman bayu memenuh dada,

Dahi si alim menyentuh tanah,

Sujud dalam zuhud,

Merendah diri memuji yang Maha Tinggi,

Mencari keredhaan yang belum pasti.

 

Masa kian singkat,

Makin gementar di qalbu,

Sendirian di malam-malam istimewa,

Berteman wati di bawah lampu.

 

Terawikh dan Witir,

Tahajjud, Taubat dan Tasbih,

Zikir ke Subuh,

Berlalu dini hari dhuha mengganti,

Al-Kitab dikhatam lagi.

 

Si alim terus mencari,

Mencari dan mencari,

Malam dijanjikan Ilahi,

Lailatul Qadar pasti jadi,

Satu malam yang dinanti.

 

walakin(walaupun begitu) tetapi

ghalib : biasa

 

Penulis: Zulakmar Hazwan – http://www.notafikir.com

Sumber: Artikel iluvislam.com

 

Malamnya yang lebih baik dari 1000 bulan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s