MENGAIS KEPINGAN HATI

 

Kecilnya aku diantara semua,

Berdiri merendah berjalan tak gagah,

Memang kulit sering terlupa dari isinya,

 

Dan aku berlari-lari,

Mengejar tinta yang sudah digarisi,

Aku seperti butiran diatas buaian,

Dibuai jatuh, didiamkan takut tersasar,

 

Aku terus mencari erti

Waktu menerpa sang sinar bergilir

Aku senang dengan duniaku

Tapi aku lupa,

Aku sebenarnya derita dengan hidupku

 

Begitu cekal aku meraung

Begitu lemas aku menampung

Seolah jiwa ku tidak beraga,

Seolah hanya kata-kata ku belaka,

Kerana aku terus menekan belon yang terapung,

 

Aku mengais-ngais kepingan hati

Menelusuri dan menyusunnya di sanubari

Hatiku mula membentuk lembaran

Yang dulunya helaian, dini ini jadi bukuan

 

Malam sunyi kudus memaksa ku untuk mengenalMu

aku duduk menadah mengadu

aku memapah menciumi hatiMu

haus aku untuk membalas kesetiaan kasih Mu

kurebahkan seluruh asa dalam pangkuanMu

kusujudkan seluruh diri di depan kemahaan Mu

lalu aku lantunkan seruling ampun mengharap suaraMu

ku bahasakan syukurku,

dan binasakanlah angkuhku demi selendang kebesaranMu.

 

Senja ini, aku telah mengerti

Kecilnya aku dahulu bukanlah kerdil

Rendahnya aku suatu ketika bukannya lemah

Dan aku tidak perlu berlari untuk digahkan..

Yang aku dahagakan adalah setitis kasihMu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s